Langsung ke konten utama

Kalap Buku (Penimbun atau Pembaca?)

Akhir tahun kemarin saya meniatkan untuk tidak membeli buku dulu sampai bulan maret. Boro-boro sampai bulan maret, baru awal januari saja saya sudah beli 2 buku di Gramedia Balikpapan. Citra Rashmi dan Metropolis. Dann trus kesengsem dengan promo salah satu teman penulis saya kak Adya Pramudita yang menjual buku beliau dengan tawaran khusus free ongkir seluruh Indonesia.

Wuiiih, saya nggak pengin dong melewatkan kesempatan itu. Apalagi beli di penulisnya langsung bisa dapat ttd. Akhirnya beli lah saya buku itu. Niatan buat puasa beli buku tinggal isapan jempol belaka. Tapi, saya masih berniat tuh untuk menahan beli buku.

Tapi, pas minggu kemarin saya ke Balikpapan dan selalu menyempatkan mampir di Gramedia, pandangan saya langsung tertuju pada promo buku murah dengan embel-embel 'buku murah dari 5000 s/d 20000' dan 'buku murah dari 10000 s/d 50000'. 


Itu bukan pertama kalinya saya melihat obral buku di Gramedia Balikpapan, sebelumnya sudah pernah. Dan yang membuat kali ini mata saya terbelalak kaget karena buku yang diobral rata-rata masih baru. Dan emang beberapa buku yang saya minati buat dibaca cuman belum kebeli aja.

Bayangin aja buku juara dan naskah unggulan lomba qonita romance semuanya dibandrol dengan harga 20 ribu rupiah. Ya, ampyuuun.. saya langsung ambil Marginalia dan Seven Days. Sementara yang dua lagi Macaroon Love dan Always Be in Your Heart saya sudah punya. Saya jadi pijit-pijit kepala sendiri karena dulu beli Macaroon Love dua kali lipat lebih mahal dari harga yang saya temui sekarang. Hahaha... 

Buku yang lain yang saya beli ada Sunset in Weh Island karya Mbak Aida M.A. Saya suka the Moche Eyes mbak Aida, berharap saya juga menyukai karya mbak Aida yang lain. Dan Sunset in Weh Island ini dibandrol dengan harga 15 ribu rupiah saja.

Nama Clara Ng membuat saya mengambil sebuah buku berjudul Tiga Burung Kecil (Hati Yang Terbang Akan Selalu Pulang). Sepertinya itu bukan tulisan Clara Ng deh. Karena tertulis di atasnya Clara Ng Book Project. Dan saya baru menyadarinya pas udah di rumah. Buku ini dibandrol dengan harga 15 ribu.

Suami yang ada di samping saya dan ikut melihat-lihat buku kemudian menyodorkan satu buku pada saya. "Nggak mau ini?" Tawarnya. Ah, mata saya langsung berbinar-binar dan mengambil buku yang dia sodorkan. Novelisasi dari film hello goodbye yang berjudul sama Hello Goodbye karya Ayuwidya. Harganya 12 ribu.

Satu lagi novel yang saya ambil terbitan Bentang Belia karya Karina Sacharissa berjudul No Other dengan embel-embel Naskah Pilihan Lomba Novel 30 hari 30 buku. Sepertinya bukunya tentang Korea-korea gitu. Harganya juga 12 ribu.

Satu buku non fiksi yang saya ambil adalah Halal is my way dengan harga 15 ribu. Eh, ada satu buku lagi tentang travelling berjudul TraveLove karya Andrei Budiman, dkk. Suami saya mengambil satu buku fiksi fantasi seharga 20 ribu.

Total jendral saya belanja buku kemarin 149 ribu untuk 9 buku. Murmer kaaan?



Tapi, pas sampai rumah kontrakan, melihat tumpukan buku yang belum saya baca, saya jadi meringis sendiri. Saya ini penimbun atau pembaca buku sih? 

Ergggh... Tapi, jarang kan dapat kesempatan nemu buku murah *pembelaan diri*

Komentar

  1. Yaampyuun Mba Yantiii. Ikutan seneng dan ngerasain serunya deh kalo baca yang kalap-kalap belanja ginih. Hihihi. Mbekel Mba namanya buat masa depan. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... Benaaar... Itu buat bekal masa depan, Mas. Mumpung murah :D

      Hapus
  2. Aih...kalo nemu yang murmer gtu mah, aq juga bakal kalap, padahal udh berniat gak beli2 buku lagi kecuali yg untuk lomba resensi, etapi tetep aja yah *plak wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Toss, Mbak Esti... Saya malah kebalik, Mbak. Nggak pengin khusus beli buku kalau cuma pengin ikut lomba. Nggak mau ngebela2in. Karena kalah mulu. Hahaha...

      Hapus
    2. Hahaha aq juga jarang menang kok...timbunan bukunya udah banyak bingit mbak, jadi klo beli2 lagi...*lirik suami :D

      Hapus
    3. Sama, Mbak. Saya juga numpuk buku -_-' Tapi suami belum protes sih. Hihihi....

      Hapus
  3. mumpung ada dan bisa beli... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaah... Ademnya baca komentar dikau, Ka :p :p
      Thanks yaaa. :*

      Hapus
  4. Iyaaa klo udah di rumah menghibur diri, "mumpung murah kan?" begitu.xixixi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaaaa... Bener bangett... menghibur dirinya begituuu :D

      Hapus
  5. coba Mbak Yanti orang deket, pasti udah aku jadiin sasaran empuk buat pinjem buku kalo kehabisan stok bacaan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini, Kakaaaa.... Kalau satu provinsiii aja bisa pinjam2an kita ya, Kakaa. Kan murmer ongkir :D

      Hapus
  6. Huaaaa...kapan ada buku murmer di Lampung?!? >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga segera ada yaa... Tapi, Luckty sering dapat buntelan :D

      Hapus
  7. mbaak, murah banget :D sayang di sini ga ada diskon gituan. hiks :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga jarang banget, Mbak Ila. Saya kayakna pas lagi mujur aja datang ke gramed pas buku2 bagus dihargain murah. Pas datang lagi stoknya buku2 yang kurang cakep yang didiskon :D

      Hapus
  8. salam kenal dulu deh..Alhamdullilah ternyata bukan cuman diriku yang doyan numpuk buku...ahahhh ada temen nih ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

Postingan populer dari blog ini

Novel yang Berkisah Tentang Poligami

Kebahagiaan dalam pernikahan adalah harapan setiap insan yang menikah. Mereka berharap pasangan dalam hidupnya adalah yang pertama dan terakhir serta hanya maut yang bisa memisahkan. Hal itu juga dialami oleh Arini. Arini yang menyenangi dunia dongeng selalu menganggap hidupnya pun akan berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng yang selama ini ia ketahui. Happily Ever After. Semuanya semakin sempurna saat Arini menemukan sang pangeran yang membangun istana cinta bersamanya. Pras, adalah lelaki baik hati itu. Bersama Pras, Arini dikaruniai tiga anak-anak yang cerdas. Karier Arini sebagai penulis pun terus berjalan.

Drama Rumah Tangga Pasangan Muda

Setiap pernikahan punya tantangan masing-masing. Ada pernikahan yang harus berjuang di tengah kondisi ekonomi yang mengimpit, ada juga yang menghadapi pernikahan dengan pasangan yang tinggal berjauhan. Sedangkan tantangan yang dialami oleh Laili adalah dia merasa pernikahannya dengan Andra tidak berdasarkan keinginan Andra sendiri.             Andra pun dengan terang-terangan mengaku pada Laili ketika melamar gadis tetangganya itu. Bahwa lamarannya didasarkan pada keinginan orangtuanya agar Andra menikah dengan Laili. Sementara Laili sudah positif jatuh cinta pada suaminya tersebut sejak akad nikah. Padahal Andra menginginkan hubungan mereka berjalan hanya seperti seorang teman. Tak kurang dan tak lebih, sama seperti hubungan mereka sebelum menikah. Maka terjadilah pernikahan yang tak seperti orang kebanyakan. Mereka tidur di kamar terpisah dan tidak bersentuhan secara fisik seperti para pengantin baru pada umumnya. Tanpa diketahui Laili, Andra melakukan hal tersebut kar

Konnichiwa, Jepang!

                 Salah satu cara mengenal daerah atau negara lain adalah lewat cerita. Cerita dari mana saja, mendengar sendiri dari pengalaman orang lain, dari tulisan-tulisan di medsos atau dari cerita fiksi yang ada di buku. Salah satu buku yang menceritakan tentang Jepang adalah sebuah novel anak berjudul Konnichiwa, Jepang!             Cerita berawal dari Aimi yang sangat sedih karena baru pulang dari Rumah Sakit tempat ia dirawat selama dua minggu. Loh? Pulang ke rumah kok sedih? Itu karena kecelakaan yang membuat ia harus dirawat membuyarkan impiannya. Impian untuk menjadi penyanyi idola. Kecelakaan itu membuat Aimi tidak bisa ikut audisi penyanyi idola. Aimi bertambah sedih dan kesal saat mendapatkan telpon dari Erica yang mengabarkan kalau Erica terpilih menjadi di audisi tersebut. Aimi pun jadi membenci Mamanya yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.